Ustadz mohon dijelaskan apa yang dimaksud dengan do'a: Rabbanaa aatinaa
fiddunyaa hasanah wa fil aahkirati hasabah wa qnaa 'adzaabannar. Ya Tuhan,
berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah
kami dari adzab neraka.
Soni @ email
Jawab :
Anas bin Malik r.a. menerangkan, Rasulullah saw. senantiasa membiasakan
diri membaca do'a: "Rabbanaa aatina fiddunya hasanah wa fil aakhirati
hasanah wa qinaa 'adzaabannar." (H.R. Bukhari). Alangkah indahnya apabila
kita pun membiasakan diri membaca do'a ini. Orang setingkat nabi Muhammad
saw. saja rajin membacanya, mengapa kita tidak?
Pertanyaannya, apakah yang dimaksud kebahagiaan dunia itu?
Atau dengan kata lain, apakah indikator kebahagiaan dunia itu? Paling
tidak, ada tujuh tanda kebahagiaan dunia, yaitu:
1. Hati Yang Selalu Syukur
Apabila kita selalu mensyukuri apa yang Allah swt. berikan, konsekuensinya
kita akan selalu menerima dengan lapang dada ujian apa pun yang menimpa
diri kita, sepahit dan sehebat apapun ujian tersebut. Oleh sebab itu, hati
yang syukur menjadi kriteria kabahagiaan dunia, karena dengannya kita akan
selalu syukur kalau ditimpa kebaikan dan akan sabar kalau ditimpa
kesulitan. Bukankah sikap seperti ini yang akan membuat kita bahagia?
Abu Yahya Shuhaib bin Sinan r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"Sungguh menakjubkan sikap seorang mukmin itu, segala keadaan dianggapnya
baik dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Apabila
mendapatkan kesenangan ia bersyukur maka itu lebih baik baginya, dan
apabila ditimpa penderitaan ia bersabar maka itu lebih baik baginya."
(H.R.Muslim)
2. Jodoh yang Shaleh
Sungguh bahagia kalau kita punya jodoh yang shaleh, yang bisa menjadi
penyejuk saat kita lelah menghadapi tantangan-tantangan hidup, menjadi
penggembira saat kita sedih, dan menjadi pelindung saat kita menghadapi
kesulitan. Jadi, mempunyai jodoh yang shaleh bisa dipastikan menjadi
dambaan setiap orang. Namun, kenyataannya tak semudah yang kita harapkan,
sebab Allah swt. telah menjadikan suami ataupun isteri menjadi batu ujian
dalam kehidupan ini.
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan
anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap
mereka, dan jika kamu maafkan dan berlapang dada dan kamu menutupi
kesalahannya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Q.S. At-Taghabun 64: 14)
Jadi, walaupun jodoh yang shaleh itu menjadi dambaan kita, namun belum
tentu kita mendapatkannya walau sudah berusaha sekuat tenaga. Bisa jadi, di
antara kita ada yang diuji oleh isteri yang tidak shaleh seperti halnya
nabi Nuh dan Luth a.s., atau diuji oleh suami yang tidak shaleh seperti
halnya Asiah yang bersuamikan Fir'aun. Allah swt. menjelaskan hal ini dalam
ayat berikut,
"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang
kafir. Keduanya di bawah pengawasan dua hamba yang shaleh di antara
hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat (tidak mematuhi)
suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat meolong kedua isterinya
sedikit pun dari siksa Allah dan dikatakan: Masuklah kamu berdua ke neraka
bersama orang-orang yang memasukinya." "Dan Allah membuat isteri Fir'aun
perumpamaan terhadap orang-orang yang beriman, ketika dia berkata: Hai
Tuhanku, dirikanlah bagiku di sisi-Mu satu rumah di surga, dan
selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari
kaum yang zalim." (Q.S. At-Tahrim 66: 10-11)
Oleh sebab itu, kita harus berusaha dan berdo'a agar diberi jodoh yang
shaleh sehingga bisa meraih kebahagiaan dunia.
3. Anak yang Shaleh
Di antara indikator kebahagiaan dan kesuksesan dunia adalah kita memiliki
putera-puteri yang shaleh, yang bisa menjadi penyejuk hati orang tuanya.
Anak merupakan titipan Allah swt. yang harus dirawat, dididik dengan serius
dan penuh tanggung jawab. Allah swt. mengingatkan agar kita bisa melahirkan
generasi yang memiliki kekuatan materi, intelektual, dan spiritual. Kita
mesti merasa takut kalau kita meninggalkan genarasi yang lemah, baik lemah
secara material, intelektual, ataupun spiritual.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan
anak-anak yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap
kesejahteraan mereka, maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan
hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisa 4: 9)
Selain sebagai titipan, anak pun merupakan batu ujian bagi kehidupan kita.
"Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu adalah cobaan. Dan di
sisi Allahlah pahala yang besar." (Q.S. At-Taghabun 64:15).
Kalau kita sudah bersungguh-sungguh mendidiknya, namun ternyata anak
tersebut tidak menjadi shaleh sesuai harapan kita, berarti kita sedang
diuji Allah swt. dengan anak, seperti halnya Nabi Nuh a.s. yang telah
bekerja keras mendidik anaknya yang bernama Kan'an, namun anaknya malah
memusuhi ayahnya dan menentang ajaran-ajaran yang disampaikan ayahnya. Oleh
sebab itu, bersyukurlah kalau kita memiliki anak yang shaleh, karena anak
yang shaleh merupakan tanda kebahagiaan dunia.
4. Lingkungan Pergaulan yang Shaleh
Manusia adalah makhluk sosial, artinya dia tidak bisa hidup sendirian tanpa
teman. Persahabatan atau pertemanan akan banyak mempengaruhi cara berpikir,
bersikap, dan berbuat, sehingga ada keterangan yang menyebutkan Al
Mushahabatu tasriqu Thabii'ah, artinya persahabatan itu suka mencuri
tabiat. Maksudnya, dalam berinteraksi dengan teman sangat mungkin ada
perilaku atau cara berpikir mereka yang diadopsi oleh kita, dan bisa juga
sebaliknya.Syukur-syukur kalau kita selalu mengadopsi cara berpikir dan
berbuat orang lain yang positif. Yang dikhawatirkan, kalau yang kita adopsi
dari mereka justru hal-hal negatif.
Begitu pentingnya peranan sahabat atau lingkungan, sampai-sampai nabi
Ibrahim a.s. pernah berdo'a, "Rabbi hablii hukman wa alhiqnii
bishshalihin," artinya: Ya Tuhanku, beri aku ilmu dan masukkan aku ke dalam
lingkungan orang-orang shaleh. (Q.S. Asy-syu'ara 26: 83).
Tentu saja do'a ini bisa kita baca juga untuk meminta kepada Allah agar
diberi teman atau lingkungan pergaulan yang baik. Beruntunglah kalau kita
memiliki lingkungan pergaulan yang baik karena itu merupakan indikator
kebaikan dunia.
5. Harta yang Halal
Manusia tidak bisa lepas dari kehidupan yang bersifat material, karena
Allah swt. telah menetapkan fitrah kepada manusia untuk mencintai harta,
sebagaimana firman-Nya:"Dijadikan indah bagi manusia macam-macam yang
dinginkannya, di antarnya wanita-wanita, anak-anak, harta yang melimpah
berupa emas, perak, kuda (kendaraan) yang bagus, binatang ternak, dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan pada sisi Allah ada
sebaik-baik tempat kembali (surga)." (Q.S. Ali Imran 3: 14)
Yang menjadi persoalan adalah cara mendapatkannya. Tidak sedikit orang yang
menghalalkan segala cara demi mendapatkan harta dengan asumsi bahwa harta
yang banyak akan menjamin kebahagiaan dunia. Padahal, kebahagiaan
sesungguhnya bukan diukur dari berapa banyaknya harta yang kita punya tapi
seberapa halal kita mendapatkannya.
Sesungguhnya, maraknya korupsi dan manipulasi dipacu oleh asumsi bahwa
kesuksesan dunia diukur dari banyaknya harta dan bukan dari aspek
kehalalannya. Selama sebagian bangsa kita masih memikili asumsi seperti
ini, maka praktik korupsi, kolusi, dan manipulasi lainnya akan tetap marak.
Jadi, untuk menghapus praktik-praktik haram itu, paradigma berpikir tentang
harta mesti diubah, bahwa kemuliaan
seseorang bukan diukur dari banyaknya harta tapi ditentukan oleh seberapa
halal cara mendapatkannya. Jadi, kriteria kebahagiaan dunia adalah harta
yang halal bukan harta yang banyak, syukur-syukur harta kita itu halal dan
banyak.
6. Ilmu yang Bermanfaat
Allah memberikan pada manusia sejumlah perangkat untuk mendapatkan ilmu, di
antaranya pendengaran, penglihatan, dan akal, sebagaimana firman-Nya:
"Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, serta hati agar
kamu bersyukur." (Q.S. An-Nahl 16: 78).
Yang dimaksud agar kamu bersyukur adalah agar kita menggunakan mata,
telinga, dan akal untuk mendapatkan ilmu.
Ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia menjadi lebih unggul
dibandingkan makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Hal
ini terungkap dalam kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan dalam
Q.S. Al-Baqarah ayat 31-32, yaitu ketika Allah menunjukkan kemampuan Nabi
Adam a.s. dalam memahami fenomena alam dihadapan para malaikat.
Oleh sebab itu, apabila kita memiliki ilmu –apapun jenis ilmu tersebut,
apakah ilmu kauniyyah (ilmu tentang alam semesta dengan segala fenomenanya)
ataupun ilmu diniyyah (ilmu yang berkaitan dengan keagamaan)–, selama ilmu
itu bermanfaat bagi kehidupan, berarti kita telah mendapatkan kebaikan
dunia. Rasulullah saw. dalam suatu riwayat yang shahih menyebutkan bahwa
ada tiga amalan yang akan terus mengalir pahalanya walaupun kita sudah
wafat, yaitu, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang selalu mendo'akan
orang tuannya, dan shadaqah jariah. Oleh sebab itu, sungguh beruntung kalau
ilmu yang kita miliki bermanfaat untuk kehidupan sehingga bisa menjadi
amalan yang mengalir
pahalanya walaupun kita sudah meninggal.
7. Umur yang Barakah
Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang terikat waktu. Sifat waktu itu
dinamis, berjalan terus. Keadaan manusia pun berubah sesuai dengan
perjalanan waktu. Contoh sederhana, bulan lalu kita masih mahasiswa,
sekarang sudah bergelar sarjana atau bisa juga malah drop out. Tahun lalu
bergelar ayah, sekarang menjadi kakek. Jadi, sadar atau tidak, perjalanan
waktu akan mengubah kita.
Persoalannya, ke arah mana perubahan itu terjadi? Ada tiga kemungkinan.
Siapa yang kualitas amal shaleh hari ini sama dengan kemarin, itulah orang
yang tertipu oleh waktu. Siapa yang kualitas hari ini lebih buruk
dibandingkan dengan hari kemarin, itulah orang yang terpuruk. Dan siapa
yang kondisi hari ini lebih baik dari hari kemarin, itulah orang yang
mendapat rahmat.
Ciri orang yang mendapat kebahagiaan dunia adalah orang yang selalu
berusaha agar hari ini lebih baik dari kemarin. Selalu berusaha mengisi
umurnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Itulah yang disebut umur yang
barakah. Makin bertambah umurnya, makin meningkat pula amaliah shalehnya.
Sehingga ketika Allah swt. memanggilnya, ia berada di klimaks keshalehan.
Mencermati analisis di atas, bisa disimpulkan, ketika kita memohon "Ya
Allah berikan kepada kami kabahagiaan dunia," berarti kita meminta minimal
tujuh kebaikan, yaitu hati yang syukur, jodoh yang shaleh, anak yang jadi
penyejuk hati, lingkungan pergaulan yang baik, harta yang halal, ilmu yang
bermanfaat, serta umur yang barakah.
Lalu, apa yang dimaksud, "Ya Allah, berikan kepada kami kebahagiaan akhirat
dan jauhkan kami dari adzab neraka?" Kebahagiaan akhirat adalah Ridha Allah
dan surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan sebagaimana dijelaskan dalam
surat Al Maidah ayat 119,
" . . . Bagi mereka surga yang penuh kenikmatan; mereka kekal di dalamnya,
Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap Allah. Itulah
keberuntungan yang sangat besar."
Semoga Allah swt. memasukkan kita dalam surga yang penuh kenikmatan. Amiin.
Wallahu A'lam
Sumber : www.percikan-iman.com
By Msirod
Read More......
Rabu, 05 Januari 2011
Selasa, 04 Januari 2011
Apa Itu Cinta?!
Diposting oleh
Rusdi Razak Ali
OPINI
Mariska Lubis
bukan mawar tapi daffodill perlambang cinta untuk saya Foto Koleksi Pribadi
Berapa banyak cinta terurai dalam kata setiap detiknya? Berapa banyak ungkapan cinta yang terucap? Berapa banyak juga cinta yang dirasakan? Berapa besar juga cinta itu ada? Namun kenapa masih banyak di antara kita yang bertanya. Apakah cinta itu?
Pesta pernikahan sebentar lagi akan segera digelar. Undangan pun sudah tersebar. Sepertinya sudah merupakan sebuah kepastian dan tidak mungkin lagi untuk mundur. Tetapi mengapa tiba-tiba saja muncul sebuah pertanyaan dalam benak, “Apakah benar dia adalah cinta sejati saya?”.
Seorang perempuan menangis. Tiga hari lagi pernikahan itu akan segera berlangsung. Bukan rasa bahagia yang menyelimutinya. Yang ada justru malah rasa sedih dan penyesalan.
“Kenapa, sih, saya baru menyadarinya?!”
“Apa benar saya mencintainya?!”
“Kenapa juga saya mau menerima lamarannya?!”
“Bagaimana kalau dia ternyata bukan jodoh saya?!”
“Apa mampu saya akan bertahan dengannya?!”
“Apa masih bisa saya membatalkannya?!”
“Bagaimana dengan rasa malu?!”
“Bagaimana juga dengan tanggung jawab?!”
“Bagaimana?! Bagaimanaaaaaaaaa???”
Takut menghadapi kenyataan, pernikahan pun berlangsung dengan sangat meriah. Tidak ada satu orang pun yang tahu bagaimana isi hati perempuan ini yang sebenarnya. Tertutup oleh semua keindahan dan warna-warni bunga yang tersebar di mana-mana. Terhalang semua mengucapkan selamat yang diiringi doa.
Satu minggu setelah ikatan dilangsungkan, perempuan ini tidak kuasa lagi menahan kesedihan dan kepedihan hatinya. Dia masuk ke dalam mobil dan mengendarainya kencang-kencang. Tidak tahu juga ke mana arah dan tujuan. Sampai kemudian terhenti di depan sebuah rumah. Rumah mantan pacarnya. Tempat tinggal seorang pria yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
Tangisnya pun meledak dan menjadi-jadi. Segala rasa yang bercampur aduk tak karuan itu pun tumpah. Ingin sekali rasanya dia untuk turun dan masuk ke dalam rumah itu untuk meminta maaf dan untuk bisa berteriak serta membuat pengakuan. Namun tetap tidak bisa juga. Rasa takut dan ragu tetap saja merajai. “Dia pasti marah! Dia pasti marah! Dia pasti marah!“.
Singkat cerita. Perempuan ini mempertahankan pernikahannya selama lima tahun. Dia sudah merasa cukup lima tahun menderita. Mengorbankan segala rasa dan pikirannya. Juga ingin mengungkap segala kebohongan yang selama ini tersimpan. Perceraian pun tidak bisa dielakkan. Dia sendiri lagi.
Ini bukan cerita fiktif belaka. Ini adalah sebuah kenyataan. Saya tidak perlu, ya, bilang siapa orangnya?! Untuk apa juga?! Petik saja hikmah dari pengalaman perempuan ini.
Kisah pertemuan perempuan ini dengan pria tadi bukanlah dalam waktu yang singkat. Sudah lama mereka saling kenal dan bersahabat. Tetapi betul, mereka hanya pacaran sebentar. Tidak sampai dua belas bulan. Hari-hari mereka memang sepertinya terasa begitu indah. Sepertinya memang benar-benar cinta. Setiap hari selalu saja ada rindu. Baru kemudian disadari bahwa rindu itu ternyata hanyalah sebuah nafsu duniawi belaka. Rindu mereka hanya rindu untuk bersenang-senang di atas tempat tidur.
Tidak mudah memang untuk bisa mengetahui cinta yang sesungguhnya. Beruntunglah mereka yang memang segera bisa mendapatkannya dan juga merasakannya. Hanya sedikit yang bisa, Banyak sekali yang masih belum juga menemukan dan atau menyadarinya. Biarpun sudah menikah dan hidup bersama berpuluh-puluh tahun lamanya. Sudah memiliki banyak anak dan bahkan cucu.
Membedakan cinta dan nafsu diperlukan sebuah kejujuran. Tidak bisa dipungkiri di mana ada cinta ada pula nafsu yang mengiringi. Di mana ada nafsu di sana juga ada pembenaran atas nama cinta yang menyertai. Seberapa besarkah keberanian kita untuk mau jujur? Seberapa mampu kita mendengarkan suara hati? Tidak usahlah bicara untuk kepentingan orang lain ataupun bangsa dan negara sendiri. Kali ini cukup untuk diri sendiri.
Sering kita mendengar uraian tentang cinta. Cinta adalah saling memberi. Cinta adalah saling memiliki. Cinta itu murah hati dan tulus. Cinta itu…. Cinta itu…. Iya, kan?! Bagaimana kalau saya memberikan sedikit lagi uraian tentang cinta yang mendasari apa yang menjadi pemahaman saya selama ini tentang cinta? Boleh, ya?! Boleh, dong!!!
Plato pernah menjabarkan apa yang disebut dengan cinta dalam arti yang lebih luas namun sangat mendasar. Sebuah uraian yang di dalam dunia filsafat dikenal dengan sebutan “Platonic Love“, dalam dialognya yang diterbitkan dalam buku berjudul “Symposium“. Buah pikir dan pengolahan rasa atas kisah cinta antara Eros, anak dari Aphrodite (Dewi Cinta Yunani) dan Ares (Dewa Perang Yunani), dan Pysche, seorang perempuan yang sebegitu cantiknya sampai membuat iri hingga dikutuk oleh Aphorodite.
Eros dipuja sebagai perlambang cinta seorang pria yang juga merupakan bagian dari misteri cinta. Pysche selalu dipuja sebagai wanita cantik yang terus menerus mencari cintanya. Uniknya, kemudian lahirlah Voluptas, anak buah cinta keduanya, memiliki arti nama kesenangan atau keindahan dan juga bisa diartikan sebagai seks. Coba perhatikan, deh!!! Ketiga nama ini bagi saya, adalan simbol, yang bila disatukan, memiliki arti cinta adalah jiwa dan pemikiran yang menghasilkan keindahan, baik dalam bentuk seks ataupun dalam bentuk kesenangan dan keindahan lainnya.
Saya coba jelaskan dengan kata-kata saya sendiri dan menjadikannya ringkasan, ya. Panjang banget soalnya. Harus satu buku sendiri!!! Hehehe….
“Cinta mengarahkan sebuah perasaan untuk mendorong inspirasi, pemikiran, jiwa, dan arah serta tujuan hidup ke sesuatu yang sifatnya “spiritual”. Apresiasi dan penghargaan terhadap keindahan cinta yang menghasilkan juga keindahan cinta. Tidak lepas dari kemudian berakhir pada apa yang disebut sebagai “kesucian”. Benar-benar sangat suci, sakral, dan dipenuhi dengan aroma spiritual yang sangat mendalam, dahsyat, dan sangat luar biasa“.
Saya tidak berharap bahwa semua bisa mengerti tentang ini semua biarpun setiap hari kita bicara dan berpikir tentang cinta. Saya hanya ingin sekali agar kita semua mau menjadi manusia yang jujur. Memiliki keinginan dan keberanian untuk menjadi seseorang yang jujur. Itu saja.
Selamat berpikir dan semoga bermanfaat!!!
17 dari 25 Kompasianer menilai Menarik.
Salam Kompasiana,
By Mariska Lubis/Kompasiana Read More......
Mariska Lubis
bukan mawar tapi daffodill perlambang cinta untuk saya Foto Koleksi Pribadi
Berapa banyak cinta terurai dalam kata setiap detiknya? Berapa banyak ungkapan cinta yang terucap? Berapa banyak juga cinta yang dirasakan? Berapa besar juga cinta itu ada? Namun kenapa masih banyak di antara kita yang bertanya. Apakah cinta itu?
Pesta pernikahan sebentar lagi akan segera digelar. Undangan pun sudah tersebar. Sepertinya sudah merupakan sebuah kepastian dan tidak mungkin lagi untuk mundur. Tetapi mengapa tiba-tiba saja muncul sebuah pertanyaan dalam benak, “Apakah benar dia adalah cinta sejati saya?”.
Seorang perempuan menangis. Tiga hari lagi pernikahan itu akan segera berlangsung. Bukan rasa bahagia yang menyelimutinya. Yang ada justru malah rasa sedih dan penyesalan.
“Kenapa, sih, saya baru menyadarinya?!”
“Apa benar saya mencintainya?!”
“Kenapa juga saya mau menerima lamarannya?!”
“Bagaimana kalau dia ternyata bukan jodoh saya?!”
“Apa mampu saya akan bertahan dengannya?!”
“Apa masih bisa saya membatalkannya?!”
“Bagaimana dengan rasa malu?!”
“Bagaimana juga dengan tanggung jawab?!”
“Bagaimana?! Bagaimanaaaaaaaaa???”
Takut menghadapi kenyataan, pernikahan pun berlangsung dengan sangat meriah. Tidak ada satu orang pun yang tahu bagaimana isi hati perempuan ini yang sebenarnya. Tertutup oleh semua keindahan dan warna-warni bunga yang tersebar di mana-mana. Terhalang semua mengucapkan selamat yang diiringi doa.
Satu minggu setelah ikatan dilangsungkan, perempuan ini tidak kuasa lagi menahan kesedihan dan kepedihan hatinya. Dia masuk ke dalam mobil dan mengendarainya kencang-kencang. Tidak tahu juga ke mana arah dan tujuan. Sampai kemudian terhenti di depan sebuah rumah. Rumah mantan pacarnya. Tempat tinggal seorang pria yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
Tangisnya pun meledak dan menjadi-jadi. Segala rasa yang bercampur aduk tak karuan itu pun tumpah. Ingin sekali rasanya dia untuk turun dan masuk ke dalam rumah itu untuk meminta maaf dan untuk bisa berteriak serta membuat pengakuan. Namun tetap tidak bisa juga. Rasa takut dan ragu tetap saja merajai. “Dia pasti marah! Dia pasti marah! Dia pasti marah!“.
Singkat cerita. Perempuan ini mempertahankan pernikahannya selama lima tahun. Dia sudah merasa cukup lima tahun menderita. Mengorbankan segala rasa dan pikirannya. Juga ingin mengungkap segala kebohongan yang selama ini tersimpan. Perceraian pun tidak bisa dielakkan. Dia sendiri lagi.
Ini bukan cerita fiktif belaka. Ini adalah sebuah kenyataan. Saya tidak perlu, ya, bilang siapa orangnya?! Untuk apa juga?! Petik saja hikmah dari pengalaman perempuan ini.
Kisah pertemuan perempuan ini dengan pria tadi bukanlah dalam waktu yang singkat. Sudah lama mereka saling kenal dan bersahabat. Tetapi betul, mereka hanya pacaran sebentar. Tidak sampai dua belas bulan. Hari-hari mereka memang sepertinya terasa begitu indah. Sepertinya memang benar-benar cinta. Setiap hari selalu saja ada rindu. Baru kemudian disadari bahwa rindu itu ternyata hanyalah sebuah nafsu duniawi belaka. Rindu mereka hanya rindu untuk bersenang-senang di atas tempat tidur.
Tidak mudah memang untuk bisa mengetahui cinta yang sesungguhnya. Beruntunglah mereka yang memang segera bisa mendapatkannya dan juga merasakannya. Hanya sedikit yang bisa, Banyak sekali yang masih belum juga menemukan dan atau menyadarinya. Biarpun sudah menikah dan hidup bersama berpuluh-puluh tahun lamanya. Sudah memiliki banyak anak dan bahkan cucu.
Membedakan cinta dan nafsu diperlukan sebuah kejujuran. Tidak bisa dipungkiri di mana ada cinta ada pula nafsu yang mengiringi. Di mana ada nafsu di sana juga ada pembenaran atas nama cinta yang menyertai. Seberapa besarkah keberanian kita untuk mau jujur? Seberapa mampu kita mendengarkan suara hati? Tidak usahlah bicara untuk kepentingan orang lain ataupun bangsa dan negara sendiri. Kali ini cukup untuk diri sendiri.
Sering kita mendengar uraian tentang cinta. Cinta adalah saling memberi. Cinta adalah saling memiliki. Cinta itu murah hati dan tulus. Cinta itu…. Cinta itu…. Iya, kan?! Bagaimana kalau saya memberikan sedikit lagi uraian tentang cinta yang mendasari apa yang menjadi pemahaman saya selama ini tentang cinta? Boleh, ya?! Boleh, dong!!!
Plato pernah menjabarkan apa yang disebut dengan cinta dalam arti yang lebih luas namun sangat mendasar. Sebuah uraian yang di dalam dunia filsafat dikenal dengan sebutan “Platonic Love“, dalam dialognya yang diterbitkan dalam buku berjudul “Symposium“. Buah pikir dan pengolahan rasa atas kisah cinta antara Eros, anak dari Aphrodite (Dewi Cinta Yunani) dan Ares (Dewa Perang Yunani), dan Pysche, seorang perempuan yang sebegitu cantiknya sampai membuat iri hingga dikutuk oleh Aphorodite.
Eros dipuja sebagai perlambang cinta seorang pria yang juga merupakan bagian dari misteri cinta. Pysche selalu dipuja sebagai wanita cantik yang terus menerus mencari cintanya. Uniknya, kemudian lahirlah Voluptas, anak buah cinta keduanya, memiliki arti nama kesenangan atau keindahan dan juga bisa diartikan sebagai seks. Coba perhatikan, deh!!! Ketiga nama ini bagi saya, adalan simbol, yang bila disatukan, memiliki arti cinta adalah jiwa dan pemikiran yang menghasilkan keindahan, baik dalam bentuk seks ataupun dalam bentuk kesenangan dan keindahan lainnya.
Saya coba jelaskan dengan kata-kata saya sendiri dan menjadikannya ringkasan, ya. Panjang banget soalnya. Harus satu buku sendiri!!! Hehehe….
“Cinta mengarahkan sebuah perasaan untuk mendorong inspirasi, pemikiran, jiwa, dan arah serta tujuan hidup ke sesuatu yang sifatnya “spiritual”. Apresiasi dan penghargaan terhadap keindahan cinta yang menghasilkan juga keindahan cinta. Tidak lepas dari kemudian berakhir pada apa yang disebut sebagai “kesucian”. Benar-benar sangat suci, sakral, dan dipenuhi dengan aroma spiritual yang sangat mendalam, dahsyat, dan sangat luar biasa“.
Saya tidak berharap bahwa semua bisa mengerti tentang ini semua biarpun setiap hari kita bicara dan berpikir tentang cinta. Saya hanya ingin sekali agar kita semua mau menjadi manusia yang jujur. Memiliki keinginan dan keberanian untuk menjadi seseorang yang jujur. Itu saja.
Selamat berpikir dan semoga bermanfaat!!!
17 dari 25 Kompasianer menilai Menarik.
Salam Kompasiana,
By Mariska Lubis/Kompasiana Read More......
Senin, 03 Januari 2011
Jangan Kau Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu
Diposting oleh
Rusdi Razak Ali
"Fa idza 'azamta fatawakkal 'alallah"
Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan.
Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. hufft…sungguh semua itu tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa. Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran.
Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majelis-majelis halaqoh yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa. Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan.
Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain. Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang.
Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita. Apa yang memeng menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan.
Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu)supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid ;22-23)
Demikian juga bagi yang sedang gelisah terhadap jodoh.Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita,bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita,tetapi benar-benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa.
Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkanya dengan kelembutan, tapi melemparkannya dengan marah karena niat kita yang terkotori. Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat.
Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak! Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!
Oleh : Mukhlis Alghifari/selasamalam Read More......
Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan.
Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. hufft…sungguh semua itu tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa. Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran.
Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majelis-majelis halaqoh yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa. Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan.
Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain. Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang.
Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita. Apa yang memeng menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan.
Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu)supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid ;22-23)
Demikian juga bagi yang sedang gelisah terhadap jodoh.Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita,bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita,tetapi benar-benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa.
Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkanya dengan kelembutan, tapi melemparkannya dengan marah karena niat kita yang terkotori. Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat.
Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak! Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!
Oleh : Mukhlis Alghifari/selasamalam Read More......
Kebesaran Alloh SWT di Bumi Jihad Palestina Untukmu Palestina
Diposting oleh
Rusdi Razak Ali
Untukmu Palestina
Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.
Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.
Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.
Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.
Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.
Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.
Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.
Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.
Wartawan kami, Thoriq, merangkum kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk para pembaca yang budiman. Selamat mengikuti. ***
Pasukan “Berseragam Putih” di Gaza
Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.
Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.
Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.
Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.
Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”
Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”
Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.
SuaraTak Bersumber
Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).
Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.
“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.
Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.
Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.
“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.
Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.
Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”
Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.
Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.
“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya
Saksi Serdadu Israel
Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.
Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Chan*nel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.
“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.
Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.
Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”
Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu? ***
Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh
Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.
Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.
Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.
Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.
Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.
Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.”
Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.
Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.
Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.
Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”
Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para niujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.
Merpati dan Anjing
Seorang mujahid Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada situs Filithin AlAan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.
Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.
Begitu merpali itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.
Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.
Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”
Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.
Kabut pun Ikut Membantu
Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).
Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.
Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.
Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com. la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.
Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.
Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.
Selamat dengan al-Qur’an
Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.
Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.
Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.
Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).
Dr Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.
Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.
“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, ‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).***
Harum Jasad Para Syuhada
Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.
Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan.
Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo. com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.
Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.
Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.
Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.
Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.
Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”
Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir
Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.
Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.
Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.
Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.
Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.
Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.
Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)
Terbunuh 1.000, Lahir 3.000
Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.
Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Is*rael melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.
Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus,” katanya kepada islamonline.net (2/2/ 2009).
Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.
“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka,” ungkapnya.
dari sumber yang terdapat di situs jejaring sosial facebook
By selasamalam Read More......
Minggu, 02 Januari 2011
Mengunjungi Patanyamang, Desa Terpencil yang Mampu Hasilkan Listrik Sendiri (1)
Diposting oleh
Rusdi Razak Ali
Terinspirasi Ide Pak Arsyad, Dua Tahun Langsung Ganti Turbin
Harapan itu sempat mengapung tanpa arah. Tofografi Desa Patanyamang, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, yang terletak di lereng pegunungan membuat PLN angkat tangan. Mustahil menghadirkan listrik. Tapi warga tak manja. Mereka yakin bisa melakukannya sendiri. Syaratnya hanya satu; kerja keras.Pasar Tobonggae hampir usai. Di parkiran, sebuah mobil jeep berwarna biru tua sudah disesaki penumpang. Sebentar lagi berangkat. Tinggal menunggu barang belanjaan para penumpang di atap mobil, selesai diikat.
Sang sopir, Rudi, dibantu dua keneknya, tampak cekatan mengaitkan ujung-ujung tali. Semua penumpang warga Patanyamang, kecuali penulis dan seorang teman bernama Muliar.
Jam menunjukkan pukul 09.35 Wita saat Rudi mulai menghidupkan mesin mobil bermerek Toyota Land Cruiser keluaran 1987 itu. Samar-samar terdengar suara beberapa penumpang melafalkan doa.
Memang tak seragam, tapi semuanya tentu berharap bisa tiba di tempat tujuan dengan selamat. Tak terkecuali Daeng Nanring, penumpang yang duduk berhadapan dengan penulis di bagian paling belakang. Mulutnya komat-kamit. Duduknya tenang.
Jalan menuju Desa Patanyamang memang menuntut kecakapan ekstra pengemudi. Penuh tanjakan. Banyak tikungan tajam. Di sana-sini terdapat jurang yang menganga.
Jangan harap bisa melalui jalan beraspal. Yang ada hanya jalan tanah yang di beberapa bagian dijejali batu kali. Hujan yang turun sehari sebelumnya membuat kondisi jalan semakin sulit ditempuh. Bagi pecinta otomotif jenis off road, jalan menuju Patanyamang, layak dijajal.
Desa Patanyamang berada di pegunungan, sekira 13 kilometer dari jalan poros Camba-Bone. Butuh nyali besar jika ingin mengendarai sepeda motor. Kondisi jalan benar-benar buruk.
Hanya kendaraan khusus seperti mobil hardtop atau jeep yang bisa menembus ke sana. Waktu tempuh antara dua hingga tiga jam. Bagi warga yang kuat jalan kaki, butuh waktu antara empat sampai lima jam.
Patanyamang sangat terpencil. Sebuah kenyataan yang bisa membuat kita mahfum jika PLN tak mampu menghadirkan listrik ke sana. Tentu membutuhkan biaya besar, juga volume kerja yang berlipat ganda.
Menurut Kepala Desa (Kades) Patanyamang, Nasruddin, antara tahun 1999-2000, pihak PLN sempat berkali-kali melakukan survei ke desanya. Melakukan dialog dengan warga. Tapi yang tersisa hanya janji. Warga tetap harus hidup "meraba" tanpa listrik.
Warga "berontak". Mereka merasa harus menentukan nasib sendiri. Sampai pada 2004, sebuah program pemerintah bernama Program Pengembangan Kecamatan (PPK), berdengung.
Program itu dianggap sebagai peluang emas, setidaknya untuk mewujudkan mimpi menghadirkan listrik. Tapi, dana PPK tak cukup banyak untuk menjangkau seluruh desa di Kecamatan Camba. Ada proses seleksi yang mesti dilewati.
Tanda-tanda keberuntungan Desa Patanyamang, perlahan mulai tampak. Proyek usulan mereka menempati rangking satu. Dana pun mengucur. Tapi jumlahnya hanya sekira Rp 210 juta.
Aparat desa bersama warga pun mesti cermat berhitung. "Awalnya kami ragu bisa membangun sebuah pembangkit listrik. Dana minim," kata Nasruddin, di kediamannya di Patanyamang, Jumat, 31 Oktober.
Tapi semangat warga telanjur berkobar. Angka-angka minim yang tertera di layar kalkulator tak cukup untuk menghentikan langkah mereka. Pameo habis gelap terbitlah terang telah terpatri di benak para warga.
"Tekad sudah bulat. Sebenarnya, sudah ada 17 kepala keluarga yang sudah lama menikmati listrik. Itu berkat kincir kayu yang dibuat Pak Arsyad.
Itulah yang mengilhami kami untuk membangun sebuah pembangkit dengan kapasitas lebih besar dan bisa dinikmati seluruh warga desa," kata Enrekang, tokoh masyarakat Patanyamang yang juga Kepala Dusun Lalebata, usai salat Jumat.
Pak Arsyad yang dimaksud mantan jagoan kampung itu bukanlah seorang ahli mekanikal maupun elektrikal. Arsyad adalah penduduk asli Patanyamang yang tidak tamat SD.
Tapi ilmu itu didapatkannya saat merantau ke Kalimantan di awal 1990-an. Di sana, dia melihat sebuah desa terpencil yang bisa menikmati listrik hasil produksi sendiri. Memakai teknologi sederhana, hanya berupa kincir kayu.
Balik ke Patanyamang pertengahan 1995, Arsyad mencoba menerapkan teknologi seperti itu. Dia pun membangun pembangkit listrik tenaga air. Sebuah kincir digunakan sebagai penggerak yang mampu mengonversi energi air menjadi listrik.
Eksperimen Arsyad berhasil. Namun hanya belasan kepala keluarga (KK) yang bisa menikmati. Selebihnya, 300-an KK hanya bisa jadi "penonton".
Kincir tak cocok. Saat dana PPK mengucur, usulan memakai teknologi yang lebih canggih pun mengemuka. Setelah berkonsultasi ke mana-mana, pilihan warga jatuh pada teknologi turbin.
Untuk itu, sebuah pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH), harus dibangun. Debit air di Patanyamang cukup memungkinkan. Mata air Bulu Kaleleng nyaris tak pernah kering.
Biaya yang minim tertutupi dengan swadaya warga sebesar Rp 80 juta. Terkumpullah total dana sebesar Rp 290 juta. Sebuah turbin dibeli dari Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Makassar.
Harganya sekira Rp 100 juta. Sisa dana dipakai untuk membangun bendungan, rumah pembangkit, serta rumah operator. Tak ada biaya untuk tukang. Warga menyelesaikannya dengan bergotong royong.
Sebagian bahan bangunan dibeli, sebagian lagi diambil dari sumber daya alam desa. Laki-laki mengumpulkan batu kali dan pasir, serta kayu untuk tiang listrik. Kaum perempuan menyiapkan makanan.
Dalam waktu yang lumayan singkat, semuanya beres. PLTMH telah berdiri kokoh. Hanya saja, kapasitas produksinya masih minim, hanya 15 kilowatt (kw) atau 15.000 watt. Masih ada separuh warga yang belum bisa terjamah listrik. Kondisi tersebut hanya berlangsung dua tahun. Pada 2006, bank dunia mengucurkan dana untuk Patanyamang.
PLTMH tahap kedua pun dimulai. Turbin dan generator diganti. Kemampuan produksi dayanya hinga 30.000 watt. Cukup untuk menerangi rumah 360 KK yang ada di desa tersebut. "Juga untuk fasilitas umum," tutur Kades Nasruddin.
***
Jumat siang. Penulis bersama aparat desa terlibat perbincangan santai di teras rumah Nasruddin. Beberapa menit sebelumnya, kami makan bersama. Beragam menu disiapkan istri Nasruddin, Hasdawati. Warga sering memanggilnya dengan sebutan Ibu Desa.
Menu ikan bakar Ibu Desa paling "laris" siang itu. Namun Enrekang merasa lebih nikmat mencicipi sup. Tangan kirinya tak lupa meraih beberapa irisan jeruk nipis.
Enrekang bersama warga lainnya, pamit pulang setelah makan. Sementara penulis melanjutkan "petualangan" ke lokasi turbin. Berboncengan dengan Pak Kades. Motornya Honda Win 100 yang sudah dimodifikasi.
Ada juga sekretaris desa, Muh Rasta yang membonceng Muliar. Sementara sang operator turbin, Syarif, memilih jalan kaki. "Laccu balatuka bela (jalan licin)," katanya dalam bahasa Dentong, bahasa yang berlaku di Patanyamang.
Untuk mencapai lokasi turbin, kita harus menyeberang sungai. Di bagian atas, tampak bendungan yang menjadi tempat berkumpulnya air sebelum mengalir ke turbin. Di bawah bendungan ada rumah pembangkit.
Di dalam ruangan berukuran 3x4 meter itulah mesin bernama turbin berada. Bentuknya mirip mesin penggiling. Warnanya biru dan kuning. Ada juga sebuah generator yang terhubung dengan panel kontrol.
Warnanya senada. Di bagian atas ruangan, tiga alat ballast load, alat penyeimbang tegangan, tertancap. Benda itu memancarkan panas yang terasa perih di kulit.
Mekanisme kerja alat-alat tersebut terbilang sederhana. Air yang dialirkan dengan pipa 12 inch, tiba di turbin. Proses perputaran membuat energi air berubah menjadi energi listrik yang kemudian berpindah ke generator.
"Keseimbangannya harus selalu dijaga agar listrik bisa terus mengalir," jelas Syarif. Dia pemuda yang cerdas. Pria 28 tahun itu tahu betul soal listrik di desanya. Padahal dia mengaku tak pernah sekolah. Belajar otodidak, melihat kerja Arsyad yang kini menjadi kepala operator.
Di belakang rumah pembangkit, masih ada sebuah bangunan. Namanya rumah operator. Di situlah Arsyad, Syarif dan operator lainnya, Sabang, kerap menginap. Mereka harus memastikan gerak turbin tetap stabil.
Sebuah televisi dengan antena parabola menjadi teman setia para operator. Hanya ada satu kamar dengan sebuah kasur mini. Di bagian depan, ada teras yang sempit. Sebuah jam dinding yang sudah tak berfungsi, menggantung di atasnya.
Dari kedua banguan kecil itulah, listrik dikendalikan. Tugas utama operator adalah menghidupkan dan mematikan turbin. Listrik di Patanyamang memang tidak sepanjang waktu menyala.
Turbin hanya diaktifkan mulai pukul 17.00 hingga pukul 07.00 Wita. Tapi tetap ada pengecualian. Hari Jumat dan Minggu, listrik mengalir 24 jam. "Agar mesin tahan lama," kata Syarif.
Walau tak menyala sepanjang waktu, warga mengaku tetap bahagia. Setidaknya, kini mereka bisa menikmati hasil jerih payah mereka secara mandiri itu.
"Akkulle tommaki nonton televisi do' (sekarang kita juga sudah bisa nonton televisi)," seloroh Enrekang saat masih di rumah Pak Kades. Dia orang yang ramah. Usianya sudah 62 tahun, semakin senja.
Tapi di balik keramahannya itu, Enrekang ternyata bisa juga bersikap keras. Dia menjadi orang pertama yang menentang pembangunan turbin di Patanyamang yang kemudian diikuti sebagian besar warga.
Bagaimana perjuangan warga Patanyamang membangun turbin di tengah sikap pesimistis sebagian warga lainnya? Bagaimana juga kehidupan warga setelah listrik mulai mengalir, serta pengelolaan PLTMH sehingga tak merugi seperti PLN? Jawabannya ada di lanjutan tulisan ini. (bersambung)
(FAJAR, Selasa 04 Nov 2008, )
By IMAM DZULKIFLI, MAROS
Photo Panorama, Lestari65
by Lestari galery Read More......
Harapan itu sempat mengapung tanpa arah. Tofografi Desa Patanyamang, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, yang terletak di lereng pegunungan membuat PLN angkat tangan. Mustahil menghadirkan listrik. Tapi warga tak manja. Mereka yakin bisa melakukannya sendiri. Syaratnya hanya satu; kerja keras.Pasar Tobonggae hampir usai. Di parkiran, sebuah mobil jeep berwarna biru tua sudah disesaki penumpang. Sebentar lagi berangkat. Tinggal menunggu barang belanjaan para penumpang di atap mobil, selesai diikat.
Sang sopir, Rudi, dibantu dua keneknya, tampak cekatan mengaitkan ujung-ujung tali. Semua penumpang warga Patanyamang, kecuali penulis dan seorang teman bernama Muliar.
Jam menunjukkan pukul 09.35 Wita saat Rudi mulai menghidupkan mesin mobil bermerek Toyota Land Cruiser keluaran 1987 itu. Samar-samar terdengar suara beberapa penumpang melafalkan doa.
Memang tak seragam, tapi semuanya tentu berharap bisa tiba di tempat tujuan dengan selamat. Tak terkecuali Daeng Nanring, penumpang yang duduk berhadapan dengan penulis di bagian paling belakang. Mulutnya komat-kamit. Duduknya tenang.
Jalan menuju Desa Patanyamang memang menuntut kecakapan ekstra pengemudi. Penuh tanjakan. Banyak tikungan tajam. Di sana-sini terdapat jurang yang menganga.
Jangan harap bisa melalui jalan beraspal. Yang ada hanya jalan tanah yang di beberapa bagian dijejali batu kali. Hujan yang turun sehari sebelumnya membuat kondisi jalan semakin sulit ditempuh. Bagi pecinta otomotif jenis off road, jalan menuju Patanyamang, layak dijajal.
Desa Patanyamang berada di pegunungan, sekira 13 kilometer dari jalan poros Camba-Bone. Butuh nyali besar jika ingin mengendarai sepeda motor. Kondisi jalan benar-benar buruk.
Hanya kendaraan khusus seperti mobil hardtop atau jeep yang bisa menembus ke sana. Waktu tempuh antara dua hingga tiga jam. Bagi warga yang kuat jalan kaki, butuh waktu antara empat sampai lima jam.
Patanyamang sangat terpencil. Sebuah kenyataan yang bisa membuat kita mahfum jika PLN tak mampu menghadirkan listrik ke sana. Tentu membutuhkan biaya besar, juga volume kerja yang berlipat ganda.
Menurut Kepala Desa (Kades) Patanyamang, Nasruddin, antara tahun 1999-2000, pihak PLN sempat berkali-kali melakukan survei ke desanya. Melakukan dialog dengan warga. Tapi yang tersisa hanya janji. Warga tetap harus hidup "meraba" tanpa listrik.
Warga "berontak". Mereka merasa harus menentukan nasib sendiri. Sampai pada 2004, sebuah program pemerintah bernama Program Pengembangan Kecamatan (PPK), berdengung.
Program itu dianggap sebagai peluang emas, setidaknya untuk mewujudkan mimpi menghadirkan listrik. Tapi, dana PPK tak cukup banyak untuk menjangkau seluruh desa di Kecamatan Camba. Ada proses seleksi yang mesti dilewati.
Tanda-tanda keberuntungan Desa Patanyamang, perlahan mulai tampak. Proyek usulan mereka menempati rangking satu. Dana pun mengucur. Tapi jumlahnya hanya sekira Rp 210 juta.
Aparat desa bersama warga pun mesti cermat berhitung. "Awalnya kami ragu bisa membangun sebuah pembangkit listrik. Dana minim," kata Nasruddin, di kediamannya di Patanyamang, Jumat, 31 Oktober.
Tapi semangat warga telanjur berkobar. Angka-angka minim yang tertera di layar kalkulator tak cukup untuk menghentikan langkah mereka. Pameo habis gelap terbitlah terang telah terpatri di benak para warga.
"Tekad sudah bulat. Sebenarnya, sudah ada 17 kepala keluarga yang sudah lama menikmati listrik. Itu berkat kincir kayu yang dibuat Pak Arsyad.
Itulah yang mengilhami kami untuk membangun sebuah pembangkit dengan kapasitas lebih besar dan bisa dinikmati seluruh warga desa," kata Enrekang, tokoh masyarakat Patanyamang yang juga Kepala Dusun Lalebata, usai salat Jumat.
Pak Arsyad yang dimaksud mantan jagoan kampung itu bukanlah seorang ahli mekanikal maupun elektrikal. Arsyad adalah penduduk asli Patanyamang yang tidak tamat SD.
Tapi ilmu itu didapatkannya saat merantau ke Kalimantan di awal 1990-an. Di sana, dia melihat sebuah desa terpencil yang bisa menikmati listrik hasil produksi sendiri. Memakai teknologi sederhana, hanya berupa kincir kayu.
Balik ke Patanyamang pertengahan 1995, Arsyad mencoba menerapkan teknologi seperti itu. Dia pun membangun pembangkit listrik tenaga air. Sebuah kincir digunakan sebagai penggerak yang mampu mengonversi energi air menjadi listrik.
Eksperimen Arsyad berhasil. Namun hanya belasan kepala keluarga (KK) yang bisa menikmati. Selebihnya, 300-an KK hanya bisa jadi "penonton".
Kincir tak cocok. Saat dana PPK mengucur, usulan memakai teknologi yang lebih canggih pun mengemuka. Setelah berkonsultasi ke mana-mana, pilihan warga jatuh pada teknologi turbin.
Untuk itu, sebuah pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH), harus dibangun. Debit air di Patanyamang cukup memungkinkan. Mata air Bulu Kaleleng nyaris tak pernah kering.
Biaya yang minim tertutupi dengan swadaya warga sebesar Rp 80 juta. Terkumpullah total dana sebesar Rp 290 juta. Sebuah turbin dibeli dari Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Makassar.
Harganya sekira Rp 100 juta. Sisa dana dipakai untuk membangun bendungan, rumah pembangkit, serta rumah operator. Tak ada biaya untuk tukang. Warga menyelesaikannya dengan bergotong royong.
Sebagian bahan bangunan dibeli, sebagian lagi diambil dari sumber daya alam desa. Laki-laki mengumpulkan batu kali dan pasir, serta kayu untuk tiang listrik. Kaum perempuan menyiapkan makanan.
Dalam waktu yang lumayan singkat, semuanya beres. PLTMH telah berdiri kokoh. Hanya saja, kapasitas produksinya masih minim, hanya 15 kilowatt (kw) atau 15.000 watt. Masih ada separuh warga yang belum bisa terjamah listrik. Kondisi tersebut hanya berlangsung dua tahun. Pada 2006, bank dunia mengucurkan dana untuk Patanyamang.
PLTMH tahap kedua pun dimulai. Turbin dan generator diganti. Kemampuan produksi dayanya hinga 30.000 watt. Cukup untuk menerangi rumah 360 KK yang ada di desa tersebut. "Juga untuk fasilitas umum," tutur Kades Nasruddin.
***
Jumat siang. Penulis bersama aparat desa terlibat perbincangan santai di teras rumah Nasruddin. Beberapa menit sebelumnya, kami makan bersama. Beragam menu disiapkan istri Nasruddin, Hasdawati. Warga sering memanggilnya dengan sebutan Ibu Desa.
Menu ikan bakar Ibu Desa paling "laris" siang itu. Namun Enrekang merasa lebih nikmat mencicipi sup. Tangan kirinya tak lupa meraih beberapa irisan jeruk nipis.
Enrekang bersama warga lainnya, pamit pulang setelah makan. Sementara penulis melanjutkan "petualangan" ke lokasi turbin. Berboncengan dengan Pak Kades. Motornya Honda Win 100 yang sudah dimodifikasi.
Ada juga sekretaris desa, Muh Rasta yang membonceng Muliar. Sementara sang operator turbin, Syarif, memilih jalan kaki. "Laccu balatuka bela (jalan licin)," katanya dalam bahasa Dentong, bahasa yang berlaku di Patanyamang.
Untuk mencapai lokasi turbin, kita harus menyeberang sungai. Di bagian atas, tampak bendungan yang menjadi tempat berkumpulnya air sebelum mengalir ke turbin. Di bawah bendungan ada rumah pembangkit.
Di dalam ruangan berukuran 3x4 meter itulah mesin bernama turbin berada. Bentuknya mirip mesin penggiling. Warnanya biru dan kuning. Ada juga sebuah generator yang terhubung dengan panel kontrol.
Warnanya senada. Di bagian atas ruangan, tiga alat ballast load, alat penyeimbang tegangan, tertancap. Benda itu memancarkan panas yang terasa perih di kulit.
Mekanisme kerja alat-alat tersebut terbilang sederhana. Air yang dialirkan dengan pipa 12 inch, tiba di turbin. Proses perputaran membuat energi air berubah menjadi energi listrik yang kemudian berpindah ke generator.
"Keseimbangannya harus selalu dijaga agar listrik bisa terus mengalir," jelas Syarif. Dia pemuda yang cerdas. Pria 28 tahun itu tahu betul soal listrik di desanya. Padahal dia mengaku tak pernah sekolah. Belajar otodidak, melihat kerja Arsyad yang kini menjadi kepala operator.
Di belakang rumah pembangkit, masih ada sebuah bangunan. Namanya rumah operator. Di situlah Arsyad, Syarif dan operator lainnya, Sabang, kerap menginap. Mereka harus memastikan gerak turbin tetap stabil.
Sebuah televisi dengan antena parabola menjadi teman setia para operator. Hanya ada satu kamar dengan sebuah kasur mini. Di bagian depan, ada teras yang sempit. Sebuah jam dinding yang sudah tak berfungsi, menggantung di atasnya.
Dari kedua banguan kecil itulah, listrik dikendalikan. Tugas utama operator adalah menghidupkan dan mematikan turbin. Listrik di Patanyamang memang tidak sepanjang waktu menyala.
Turbin hanya diaktifkan mulai pukul 17.00 hingga pukul 07.00 Wita. Tapi tetap ada pengecualian. Hari Jumat dan Minggu, listrik mengalir 24 jam. "Agar mesin tahan lama," kata Syarif.
Walau tak menyala sepanjang waktu, warga mengaku tetap bahagia. Setidaknya, kini mereka bisa menikmati hasil jerih payah mereka secara mandiri itu.
"Akkulle tommaki nonton televisi do' (sekarang kita juga sudah bisa nonton televisi)," seloroh Enrekang saat masih di rumah Pak Kades. Dia orang yang ramah. Usianya sudah 62 tahun, semakin senja.
Tapi di balik keramahannya itu, Enrekang ternyata bisa juga bersikap keras. Dia menjadi orang pertama yang menentang pembangunan turbin di Patanyamang yang kemudian diikuti sebagian besar warga.
Bagaimana perjuangan warga Patanyamang membangun turbin di tengah sikap pesimistis sebagian warga lainnya? Bagaimana juga kehidupan warga setelah listrik mulai mengalir, serta pengelolaan PLTMH sehingga tak merugi seperti PLN? Jawabannya ada di lanjutan tulisan ini. (bersambung)
(FAJAR, Selasa 04 Nov 2008, )
By IMAM DZULKIFLI, MAROS
Photo Panorama, Lestari65
by Lestari galery Read More......
Erotisme Di Dunia Maya
Diposting oleh
Rusdi Razak Ali
Pornografi makin menggila. Batas antarnegara pun diterjang. Kini bisa hadir online 24 jam di rumah-rumah kita. Internet adalah jalan tembusnya.
Kecanggihan teknologi memang pisau bermata dua. Salah pemanfaatan bukan kebaikan yang datang, tapi marabahaya. Itu juga yang berlaku pada internet. Kemudahan informasi via internet ternyata mengundang hadirnya industri pornografi. Adalah ulah sejumlah kapitalis yang menanamkan investasi di bisnis pornografi dunia maya. Beragam informasi yang bikin gerah banyak orang itu ditawarkan. Mulai dari sekedar menampilkan gambar wanita telanjang hingga adegan-adegan yang menjijikkan dan di luar batas kemanusiaan juga dijajakan; seperti lesbian, homoseksual, pedofilia dan hubungan intim dengan hewan. Tapi apapun komentar banyak orang – termasuk kita umat Muslim –, erotisme yang ditawarkan via internet telah mendobrak batas-batas penghalang antara publik – termasuk remaja – dengan para produser pornografi. Kini, orang dewasa dan remaja tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli majalah atau VCD porno karena semuanya dapat hadir di warung internet, dan bahkan rumah. Seperti kata Scott Hirsch, pemilik DOMELive salah satu situs porno terbesar di Amrik, “Internet telah memecahkan problem distribusi yang menghadang industri pornografi.”
Clinton-Lewinsky
Setelah Kongres Amerika menyetujui pembeberan skandal Bill Clinton dan Monica Lewinsky – hasil investigasi Kenneth Starr, 11 September 1997, sontak banyak orang mengalihkan perhatian mereka ke layar monitor. Meng -klik sejumlah situs internet dan membaca laporan setebal 442 halaman. Begitu banyaknya orang yang mengakses internet, membuat mengakses laporan itu tak segampang biasanya.
Apa kelebihan informasi yang diturunkan internet? Bebas sensor. Bila jaringan televisi dan media cetak harus melalui sensor terlebih dahulu, situs-situs menyajikannya dengan komplit. Detil demi detil perselingkuhan Mr. Bill dan karyawan magang Gedung Putih itu dikupas tuntas. Mulai dari proses perkenalan, tubrukan yang direkayasa, surat-suratan dan telepon-teleponan yang penuh rayuan gombal, hingga sejumlah perzinaan yang dilakukan sang presiden dengan pegawainya tersebut.
Nggak aneh kalau anak muda di Amrik tercatat yang paling banyak mengakses laporan tersebut, meski orang tua juga ada. Tapi kaum tua kemudian mencibir dan menyebut laporan tersebut tidak ada bedanya dengan roman stensilan murahan. “Menjijikkan,” komentar mereka.
Tapi, perselingkuhan tingat tinggi ini menjadi cerita betapa internet telah menjadi sebuah sumber informasi yang amat vital, sekaligus tambang emas kekayaan yang menggiurkan. Coba simak, setelah laporan Kenneth Starr keluar, Bursa Dow Jones mencatat bahwa saham perusahaan internet melonjak tajam. Saham American Online, misalnya meningkat dari 9 1/8 menjadi 115 ?; Yahoo dari 14 15/16 sampai 117 7/8; dan Amazon.com melonjak dari 16 15/16 menjadi 105 1/8; saham Excite sebuah perusahaan search engine (mesin pencari) naik 30 %, dari 9 3/8 menjadi 37 ?.
Itulah yang menyebabkan internet mulai dilirik para pengusaha seks. Mudah dijangkau konsumen (karena di AS komputer hampir ada di tiap rumah), harganya terjangkau karena memakai pulsa lokal, dapat disimpan, dan paling penting; privasi terjaga. Orang tidak perlu lagi ngumpet-ngumpet untuk membeli majalah atau VCD porno, cukup diam di kamar atau pergi ke warnet.
Begitu dahsyatnya, sampai-sampai Gedung Putih pun mengakses cybersex ini. Baru-baru ini seorang konsultan keamanan komputer yang disewa untuk membenahi masalah itu di dalam Gedung Putih menemukan adanya akses internet dalam jumlah besar dari dalam lokasi terhormat itu terhadap situs-situs pornografi yang menyediakan jasa tayangan streaming video secara real-time!
Sejumlah besar arsip video pornografis itu diketahui berhasil menembus masuk ke dalam Gedung Putih, padahal file-file itu harus melewati firewall yang tentu saja sudah terhitung sangat canggih untuk ukuran Amerika guna melindungi kemungkinan tersusupinya sistem komputer kepresidenan, termasuk oleh mereka yang bersembunyi di balik jasa situs-situs porno. Penggunanya? Sejumlah nama pejabat penting di sana, dan beberapa di antaranya adalah wanita. (satulelaki.com)
Karena duit, bisnis cybersex kini merajalela. Majalah Playboy, misalnya, sejak tahun ’96 lalu membuka situs di internet. “Jasa internet sangat membantu usaha kami,”kata Tony Lynn, Presiden Playboy Entertainment. Tony berkata demikian karena tiras majalah porno yang mencapai 5 juta eksemplar itu terus melorot karena mulai banyak pesaing.
Spice Entertainment, perusahaan hiburan Amerika yang semula menawarkan jasa haram itu lewat jaringan televisi juga ikut merambah internet. “Kalau mau mengeruk duit dari jasa on line, itulah seks,” kata Roger Faherty, Direktur Spice Entertainmet.
Salah perusahaan penyedia jasa erotisme Internet Video Group (IVG) menceritakan keuntungan yang mereka raup. Pemiliknya, Scott Hirsch, mampu membeli rumah mewah dan Mercedes Benz dalam sekejap. Untuk itu Hirsch mempekerjakan 3 lusin wanita cantik yang sehari-harinya ‘bertugas’ menampilkan kemesuman. Mereka kebanyakan para penari malam yang sudah jenuh bekerja di klab-klab malam. Para ‘artis’ itu bekerja di areal terbuka seluas 22.000 meter persegi di Pompano Beach, yang berfungsi sebagai cyberbroadcast, dilengkapi segala fasilitas termasuk gimnasium untuk menjaga kebugaran para ‘karyawan’. Gedungnya saja senilai US$ 1,6 juta. Tapi biaya besar itu tidak menjadi soal karena Hirsch paham betul seluk beluk bisnis ini. Perhitungan Hirsch benar, dalam tiga bulan perusahaannya sudah meraup keuntungan.
Perusahaan yang dipimpin usahawan contact lens, pernah membuat gebrakan sinting yang menjadi skandal. Mereka promosi akan menayangkan adegan mesum sepasang pemuda bernama Mike dan Diane, yang akan melepas keperawanannya 4 Agustus ’98 lalu. Para penggila erotisme kontan memburu tayangan tersebut. Ketika rencana itu diumumkan pada pertengahan Juli, dalam sekejap 50.000 orang tercatat bakal masuk situs tersebut. Masing-masing dikenai tarif US$ 5-US$ 8.
Namun tayangan sinting bin ngawur itu keburu terbongkar. Mike ternyata bernama Ty Taylor, 23 tahun, seorang pengangguran dari Alabama. Sedangkan Diane bernama Michelle Parma, asal Texas. Michelle mengaku ia sudah tak gadis lagi. Diduga keduanya melakukanitu untuk publisitas dan duit. Tapi keduanya menyangkal tuduhan tersebut, “Ini untuk pendidikan seks yang sehat,” kata Michelle. Rupanya mereka disponsori Condomania, sebuah perusahaan retail kondom di California. Gila nggak tuh!
Berapa keuntungan bisnis situs porno ini? Cukup susah untuk menghitungnya. Karena begitu banyaknya perusahaan seperti ini tersebar di pelosok bumi. Forrester Research, sebuah jasa konsultasi bidang telekomunikasi di Boston, mengungkapkan bahwa layanan hiburan orang dewasa (adult entertainment) mencapai US$ 50 juta pertahun. Sumber lain mengungkap tahun lalu, situs asusila ini ditaksir mengeruk keuntungan hingga US$ 200 juta, atau 35 % dari US$ 550 juta pendapatan bisnis internet.
Apa yang kini berkecamuk di dunia cyberspace adalah gambaran betapa batas asusila dan susila itu sudah menjadi kabur, bahkan nyaris tidak ada. Itulah kapitalisme. Dengan asas manfaatnya sukses mengecoh manusia untuk menjadi gila harta sekalipun dengan mengorbankan moral dan harga diri. Apa mereka akan hancurnya generasi muda dan juga masyarakat? Pertanyaan seperti itu rasanya percuma dilontarkan pada mereka, tapi lebih tepat ditujukan pada umat Muslim. Agar mereka tidak lagi mengagungkan kapitalisme, demokrasi dan sekulerisme. Toh, sudah terbukti borok-boroknya. [januar]
Boks
=========
Selamatkan Anak-anak!
Banyak orang gendeng di dunia ini. Salah satunya adalah kebiasaan mereka menceburkan anak-anak dalam dunia pornografi.
Orang tua modern bisa jadi semakin tambah waswas dengan merebaknya pornografi ke dalam jaringan internet. Siapa yang tahu ketika anak-anak sedang bermain internet tahu-tahu ia salah pencet, misalkan, atau nyelonong iklan mesum ke layar monitor. Menurut dr.. Andik Wijaya, DMSH 1 dari 3 remaja Indonesia yang suka surfing di dunia maya, pernah mengakses situs-situs porno. Ia juga menuliskan bahwa 66 persen remaja yang melakukan? (maaf) oral seks terinspirasi oleh tayangan itu di internet. Padahal, selain jelas mesum, banyak adegan vulgar di internet itu yang terbilang menjijikkan seperti homoseksual, lesbian, pedofilia, hubungan seks dan wanita hamil, bahkan hubungan sedarah (incest). Mengerikan!
Bila di tanah air kekhawatiran akan anak-anak mengkonsumsi pornografi belum terlalu terasa, di Amerika sudah banyak orang tua yang mengajukan protes pada pemerintah setempat.? Menyadari bahayanya, dua orang senator Amerika, James Exon dari Nebraska dan Dan Coats dari Indiana segera merancang undang-undang untuk membasmi cybersex, yang disebut Communication Decency Act. ?Dua orang senator ini mengancam akan memasukkan sanksi dendan US$ 100 ribu bagi siapa saja yang membuat gambar porno itu bisa dijangkau anak-anak. Tapi usulan ini mendapat protes keras, terutama karena berlawanan dengan First Amandement, yang, antara lain, melarang Kongres membatasi kebebasan pers, berbicara dan hak mendapat informasi. Itulah ruwetnya demokrasi; selalu mengatasnamakan kebebasan padahal banyak urusan yang membahayakan moral publik, terutama remaja dan anak-anak.
Selain mendapat tentangan secara hukum, banyak kalangan meragukan keefektifan pemerintah mengontrol dunia tanpa batas tersebut. Server lokal bisa saja dibungkam, tapi bagaimana dengan yang dari luar wilayah hukum AS? Ini yang menjadi persoalan. Di Asia, langkah positif ini sudah diikuti oleh Singapura. Pemerintah setempat sudah melakukan pembatasan. Provider, perusahaan penyedia jasa layanan internet dibatasi hanya dua buah saja. Mereka juga dikontrol ketat. Bagi mereka yang kepergok menyebarkan pornografi ada ancaman hukuman kurungan dan denda. Bagaimana di Indonesia? Para penggemar dan penggiat situs porno boleh menarik nafas lega, soalnya pemerintah nampaknya masih adem ayem.
Ancaman pornografi pada anak-anak bukan saja kekhawatiran mereka bakal mengkonsumsi tayangan tersebut, tapi mereka juga bisa menjadi korbannya. Banyak situs porno di internet yang menayangkan pornografi yang dilakukan oleh anak-anak. Baik foto mesum ataupan adegan mesumnya itu sendiri. Pada bulan September 1998 dibawah koordinasi British National Crime Squad (BNCS), aparatur kepolisian di 12 negara menggerebek markas pembuatan dan penyebaran pornografi anak-anak. Selain menangkap 100 orang lebih, juga didapatkan 100.000 foto menjijikkan. Yang lebih mengerikan, di antara anggota mafia pornografi itu ada yang menggunakan anak kandung atau keponakan, untuk kegiatan bisnis jahanam tersebut. Diduga, kegiatan pornografi anak sangat erat kaitannya dengan banyaknya anak-anak yang hilang. Di Amerika saja setiap tahunnya sekitar 800.000 anak hilang. Dan jangan salah, situs yang menayangkan pornografi anak dan remaja juga ada yang made in Indonesia. Bahkan pihak kejaksaan AS saja sampai mengeluarkan surat penangkapan bagi dua orang warga RI yang menjadi webmaster situs porno anak-anak.
Meski usaha keras kepolisian dilakukan, namun menggulung jaringan pornografi anak tidaklah mudah. Wakil Direktur BNCS, Bob Packham, mengakui hal tersebut. Jaringan yang bernama Wonderland itu muncul di AS dan menyebar ke 12 negara di Eropa dan Australia, mereka memiliki sistem yang canggih. Mereka menggunakan kode pengamanan yang dikembangkan dinas rahasia KGB, dalam jaringan komunikasinya. Dahsyat memang!
Selama mental manusia tidak dibenahi dengan akidah yang shahih, maka penghargaan pada sesama manusia tidak akan pernah ada. Yang muncul malah eksploitasi dan saling memeras, termasuk pada anak-anak, kelompok manusia yang paling lemah. Maka, manusia harus jujur bahwa mereka membutuhkan Islam. Satu-satunya ideologi yang menentang eksploitasi terhadap sesama manusia, dan mencintai kelompok yang lemah, khususnya anak-anak. [januar, sumber Gatra 10/10/98, Kompas 12/04/02, Satulelaki.com.]
[diambil dari Majalah Permata edisi Agustus 2002]
By Gaul_Islam
by sholihin Read More......
Sabtu, 01 Januari 2011
Cara Anak Indie Mengais Rezeki
Diposting oleh
Rusdi Razak Ali
Selesai menuntaskan pembuatan film bertajuk Hope, Santrianov bersama timnya dihadapkan pada persoalan baru. Kali ini bukan tentang mengakali anggaran bikin film yang minim, namun bagaimana film bergenre dokumenter itu bisa ditonton oleh khalayak. Maklum saja, mereka bukan pelaku industri film mainstraim yang ditopang oleh dana besar. “Asal balik modal saja sudah bagus,” ujar Santrianov yang akrab disapa Aan itu. Langkah rumah produksi bernama Bogalakon Pictures itu bak terhenti di tengah jalan.
Padahal film yang bertutur tentang wajah Indonesia sekarang, setelah 12 tahun era reformasi itu, termasuk layak tonton. Pembuatan film ini juga bukan pertama kali mereka lakukan. Sebelumnya para sineas muda yang sempat mengenyam kuliah di Universitas Padjadjaran Bandung ini pernah merilis film The Jak, juga Romeo Juliet.
Film Hope merupakan hasil kerja keras mereka selama berbulan-bulan dengan pengambilan gambar seperti apa adanya. Lokasi syuting mengambil tempat di berbagai kota di Indonesia bahkan melanglang sampai Malaysia. Adegannya tentu tak dibuat dalam skenario khusus. Makanya banyak momentum memukau sekaligus menunjukkan fakta tentang Indonesia.
Produksi film nasional memang sedang tumbuh. Di bioskop rata-rata per bulan muncul dua sampai tiga film. Artinya jumlah penonton film lokal pastilah tak sedikit. Hampir semua muncul dari perusahaan film mapan. Sebuah film dengan kategori biasa dengan pemain baru saja bisa menghabiskan puluhan milyar. Sementara film Hope, cuma bermodal sekitar Rp 200 juta. Itu pun habis untuk kebutuhan syuting.
“Itu baru biaya produksi,” sergah Ucup panggilan akrab Andibachtiar Yusuf, sobat setim Santrianov. Jika masuk ke bioskop macam Blitz atau Cinema XXI, mereka harus menyiapkan tambahan dana. Sebut saja untuk proses penggandaan, biaya promosi, dan sejumlah komponen lain termasuk ongkos daftar lembaga sensor. “Bioskop sendiri tak mengutip biaya,” tambah Ucup. Jika ditotal, biaya pramasuk studio pemutaran film ini bisa dua kali lipat biaya produksi film. Bahkan lebih.
Celakanya lagi, film-film lokal jika pun antre umumnya berada di barisan belakang. Lantaran kualitas film (baik dari segi cerita maupun teknologi) nasional belum setara film Hollywood, wajar bila pengelola biskop lebih memprioritaskan film made in Amerika itu. “Lihat saja, kalau film Hollywood bisa tayang dua minggu, malah kalau box office bisa sebulan. Kalau film nasional, paling seminggu,” tandas Ucup.
Maka kian kompleks lah persoalan para kreator film bermodal cekak atau yang biasa mengambil jalur independen (indie) itu. Padahal, sejarah film indie di Indonesia sudah berlangsung lebih dari 10 tahun bahkan sempat menjadi tulang punggung film nasional sebelum kemudian datang film Ada Apa dengan Cinta? dan membangkitkan produksi film nasional dari kejenuhan film versi sinetron. Bahkan Jakarta International Film Festival pun lahir dari semangat independen yang mengusung film-film alternatif.
Dulu, ketika era VCD menjadi hype, pelaku film indie memproduksi sendiri dan mengemasnya ke plat kompak itu. Lalu, mereka menjualnya secara swadaya.Bisa melalui sistem marketing dari mulut ke mulut, menggunakan email agar bisa ketok tular, atau menggelar pemutaran film di kalangan komuniatas dan menjualnya di situ. Salah satunya dilakukan oleh kelompok Four Colors yang merilis film pendek bercerita berjudul Manyar dari Yogya.
Namun sekarang? Ketika industri digital sudah sedemikian maju, internet menjadi medianya, maka VCD dianggap ketinggalan zaman.Nasib serupa juga dialami oleh penjualan plat digital film yang semakin menurun. Bahkan rental VCD atau DVD pun banyak yang tutup.
Ke mana kah larinya film-film digital ini?
Arif Setiarso, praktisi film independen menyebutkan YouTube telah mengambil alih. Portal video ini bak toko digital yang menyediakan berbagai jenis film maupun video. Tak sedikit film independen mejeng di situ, untuk kemudian diunduh secara cuma-cuma.Jika begini, memang bukan komersial besar-besaran yang dicari. Namun seperti pencarian identitas atas sebuah film dan bagaimana pengunduh merespon bagus tidaknya sebuah film secara kualitatif. Dengan kata lain, semakin tinggi unduhan, kian sukses lah film itu diterima pasar, lalu muncul menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat. Salah satunya yang menuai sukses adalah film dokumenter berjudul No End In Sight, karya Charles Ferguson dari rumah produksi Magnolia Pictures yang bahkan menjadi nominasi di Piala Oscar untuk film dokumenter.
Hal ini pula yang menggiring film Merantau untuk tampil di YouTube. Selain versi trailer, juga ada 11 potongan film bisa diunduh. Penonton pun gratis menyaksikan film dengen genre action itu pada akhirnya.
Merantau masih untung, karena sempat diputar di biskop tanah air, meskipun tak mencetak box office versi Indonesia. Bayangkan dengan film Hope yang tertatih-tatih agar peluang masuk bioskop tetap terbuka.
Via On-Line
Dalam naungan kesulitan itu lah, kemudian film yang diperani oleh Pandji Pragiwaksono itu menggeliat mencari alternatif untuk melanggengkan jalan. Sebuah situs lokal bernama www.beoscope.com membuka kolaborasi dengan Bogalakon. Di sinilah Hope lalu berlabuh. Jurus marketing mulai dilakukan demi “menjual” film berdurasi 71 menit itu. Caranya?
“Kita lakukan on-line premiere, sekaligus nonton film lewat on-line pertama di Indonesia,” tukas Aan. Penonton yang pengguna komputer membeli tiket on-line yang dijual secara on-line dengan pembayaran bisa lewat ATM. Setiap tiket dibanderol Rp 10.000,-. Sebuah tiket dapat dipakai untuk menonton selama 12 jam. Jadi untuk sebuah film bermasa putar 71 menit, bisa ditonton sampai 10 kali secara berulang-ulang.
“Dengan tiket ceban (10.000 rupiah, RED), mereka bisa nonton ramai-ramai,” lanjut pria berpostur kurus ini. Risiko film itu kemudian ditonton warga se-RT hanya dengan membayar Rp 10.000,- sudah dibayangkan sebelumnya. Bahkan sekalipun kemudian di-streaming-kan ke layar lebar macam layar tancap pun, layaknya di desa-desa di India, sudah diperkirakan.
Bagi Aan, lewat cara begini malah membuka kemungkinan lebih banyak masyarakat yang tahu film karyanya. “Kalau ada yang tak sempat nonton, lalu penasaran, maka mereka pasti akan beli tiket lagi,” ujarnya yakin. Masalahnya, untuk balik modal, minimal tiket on-line yang terbeli harus mencapai 20.000 lembar. Butuh waktu lama. Belum lagi, film Hope yang ketika dibuat dalam format digital berukuran file 1,3 GB memerlukan tempo pengunduhan yang lumayan menyita waktu.
Perkembangan industri mobile di mana operator dan vendor menjadi tulang punggung belakangan ini diam-diam ikut membangkitkan gairah industri hiburan. Menurut pengamatan Ucup, sebuah vendor saja sampai menawarkan lagu-lagu dari artis atau band tertentu dalam satu paket penjualan. Slank misalnya, mengaku sangat terbantu ketika lima lagu hits mereka yang disisipkan ke ponsel kemudian diberi nama Nexian 27th Slank Anniversary.
Cara seperti inilah yang lantas terbias di benak Ucup. Jika lagu bisa, maka film pun sama. Ia malah melihat peluang besar dengan masuknya berbagai gadget seperti tablet PC sebagai sebuah fenomena yang akan menjadi media menonton film digital. Walaupun toh ponsel tetap menjadi priorotas lantaran penjualannya terus menanjak.
Salah satu contoh adalah film Tron Legacy yang disematkan di ponsel Nokia N8 dalam beberapa adegan. Meski dikemas hanya trailer-nya saja namun sudah cukup untuk mencuri hati penikmat film untuk pergi ke bioskop. Bagi Nokia yang menjadi sponsor, mutu audio dan video film yang dibintangi Jeff Bridges ini sekaligus menjadi “alat” untuk menunjukkan kemampuan komponen dan fitur HDMI-nya.
Ya, anak-anak indie memang selalu cerdas mencari peluang. Tak sukses masuk bioskop tradisional, masih ada jalan digital. Katanya, cara ini sudah dilakukan. Kata Ucup, mereka sanggup bikin film yang dikustom untuk sebuah produk ponsel atau tablet PC tertentu. Beragam application store yang ditawarkan oleh platform Android, BlackBerry, iPhone atau iPad, Bada, juga OVI Store makin membuka jalan distribusi film mereka. “Bahkan film Merantau sudah masuk iTunes,” ujar pira berkacamata ini.
Layanan operator
Sebagai refleksi saja. Di Amerika, industri layanan konten digital berupa video cukup diminati. Menurut eMarketer, pendapatan total dari sektor ini mencapai 719 juta dollar tahun 2010. Lembaga riset ini meramalkan tahun 2014, khusus mobile video bisa meraup untung sampai 1,3 milyar dollar.
“Proses digitalisasi media dan peluang untuk meningkatkan perolehan keuangan dari sektor game dan musik akan dialami juga oleh publisher film,” ujar Noah Elkin, analis senior eMarketer.
Tahun 2004, operator Sprint di Amerika yang menggunakan jaringan CDMA malah telah menggelar layanan “pay-per-view” untuk memperoleh streaming film durasi penuh. Layanan bernama Sprint Movies yang dioperasikan oleh mitra kerjanya, mSpot bahkan bekerjasama dengan distributor film dunia macam Buena Vista VOD, Lionsgate, Sony Pictures Home Entertainment, dan Universal Pictures.
Pada tahun itu saja sudah 45 judul siap ditonton via ponsel. Sejumlah film box office macam National Treasure, Spider-Man 2, dan Scarface adalah beberapa di antaranya.
Mengapa Sprint menggelar layanan film digital bergerak ini?
Direktur Penjualan Produk Hiburan Sprint kala itu, Alana Muller melihat ada ceruk di situ. Ia melihat pelanggan Sprint yang sering menunggu di bandara gara-gara delay, juga orang-orang sibuk yang perlu hiburan sambil makan siang, bahkan anak-anak yang diam duduk di kursi mobil saat melakukan perjalanan jauh dengan orang tuanya. “Anak-anak akan terhibur oleh film Herbie: Fully Loaded dan Babe,” kata Muller.
Upaya Sprint membuahkan hasil. Setahun kemudian nampak pertumbuhan pelanggan. Menurut Muller, sejak Sprint Movies diluncurkan pelanggan tumbuh rata-rata sebesar 30 persen. Tawaran ini sangat signifikan menarik pelanggan baru.
Sukses Sprint diikuti oleh Bell Kanada yang merilis layanan serupa tiga tahun kemudian. Bell menamakan layanannya Mobile Movies dan merangkul Buena Viesta maupun Sony Pictures. Tarif per film dimulai dari 5,15 dollar dan Bell menjaga kualitas jaringan untuk streaming film dengan paket unlimited. Program ini lantas dikemas dengan paket-paket tertentu. Pendek kata, pelanggan bisa menonton film kapan saja selama 24 jam, dan di mana saja.
Di negeri luar layanan seperti ini memang sudah jamak. Pengalaman Ucup di Inggris membuktikan betapa cepatnya proses pengunduhan film. Bahkan, sewaktu ia ke Korea sudah tak ada lagi DVD. “Semua download,” ujarnya.
Jalur untuk film indie
Di Indonesia meski kondisi mutu jaringan yang seringkali tidak konsisten bukan tak mungkin menggelar layanan serupa. Meskipun agak sulit jika menawarkan film-film dengan durasi lama. Yang memungkinkan, kata Arif yang bekerja di rumah produksi indie Good Sign Production adalah film-film pendek yang berdurasi antara tiga sampai enam menit. “Kalau agak panjang, kan bisa dipecah-pecah jadi beberapa episode,” ujarnya.
Maka, sejak tiga bulan silam rumah produksinya telah menawarkan konsep mirip mSpot-nya Sprint kepada salah satu operator GSM. “Ada respon, bahkan mereka siap menjalankan, karena infrastrukturnya sudah siap,” lanjutnya. Karena itu, proyek seperti ini sangat terbuka dan cocok bagi sineas indie.
Perkiraan Arif dengan budget sebesar 6 juta perak per episode sudah cukup untuk berkarya. “Malah kalau satu hari bisa ngejar untuk syuting tiga episode dengan biaya sama, bisa lebih ringan lagi,” akunya. Artinya sistem kejar tayang akan berlaku untuk mengefisiensi biaya dengan jaminan bahwa film-film pendek tersebut siap ditawarkan oleh operator untuk memperkaya layanan value added-nya. Ini tentu akan menjamin kontinyuitas berkarya itu sendiri.
Karya film yang disediakan lewat toko digital membuka peluang untuk terdistribusi secara internasional. Prinsip dunia tanpa batas yang ditawarkan internet (termasuk mobile internet) melandasi konsep penjualan global ini.
Sebuah content provider di India bernama Hungama Mobile melakukannya. Perusahaan ini tahu persis bahwa film Bollywood sudah mendunia. Film India bahkan cukup digandrungi di sejumlah negara Eropa. “Sebut saja Inggris, Prancis, dan Jerman. Di Belanda bahkan film India sudah di-dubbing dengan bahasa lokal,” kata Albert Almeida, COO Hungama Mobile. Hungama beralinasi dengan perusahaan Wireless Expertise untuk menjajakan film Bollywood di tanah Eropa.
Mobile digital movie versi Indonesia memang harus dimulai oleh sineas muda yang bersemangat independent yang tak melulu memikirkan unsure komersial melulu. Layanan Movie dari operator adalah salah satu pembuka jalan. Jalan lain bisa ditempuh dengan menggandeng vendor. Arif bahkan siap melakukan pekerjaan ini selagi dukungan operator maupun vendor tinggi.
Begitulah peluang itu terbuka lebar di jalur digital, agar rezeki sineas muda terus berisi dengan film-film “berbunyi”, biar industri film nasional juga dicicipi anak-anak indie. (ANDRA/FORSEL)
sumber : kompas tekno
By Penait.blogspot.com Read More......
Padahal film yang bertutur tentang wajah Indonesia sekarang, setelah 12 tahun era reformasi itu, termasuk layak tonton. Pembuatan film ini juga bukan pertama kali mereka lakukan. Sebelumnya para sineas muda yang sempat mengenyam kuliah di Universitas Padjadjaran Bandung ini pernah merilis film The Jak, juga Romeo Juliet.
Film Hope merupakan hasil kerja keras mereka selama berbulan-bulan dengan pengambilan gambar seperti apa adanya. Lokasi syuting mengambil tempat di berbagai kota di Indonesia bahkan melanglang sampai Malaysia. Adegannya tentu tak dibuat dalam skenario khusus. Makanya banyak momentum memukau sekaligus menunjukkan fakta tentang Indonesia.
Produksi film nasional memang sedang tumbuh. Di bioskop rata-rata per bulan muncul dua sampai tiga film. Artinya jumlah penonton film lokal pastilah tak sedikit. Hampir semua muncul dari perusahaan film mapan. Sebuah film dengan kategori biasa dengan pemain baru saja bisa menghabiskan puluhan milyar. Sementara film Hope, cuma bermodal sekitar Rp 200 juta. Itu pun habis untuk kebutuhan syuting.
“Itu baru biaya produksi,” sergah Ucup panggilan akrab Andibachtiar Yusuf, sobat setim Santrianov. Jika masuk ke bioskop macam Blitz atau Cinema XXI, mereka harus menyiapkan tambahan dana. Sebut saja untuk proses penggandaan, biaya promosi, dan sejumlah komponen lain termasuk ongkos daftar lembaga sensor. “Bioskop sendiri tak mengutip biaya,” tambah Ucup. Jika ditotal, biaya pramasuk studio pemutaran film ini bisa dua kali lipat biaya produksi film. Bahkan lebih.
Celakanya lagi, film-film lokal jika pun antre umumnya berada di barisan belakang. Lantaran kualitas film (baik dari segi cerita maupun teknologi) nasional belum setara film Hollywood, wajar bila pengelola biskop lebih memprioritaskan film made in Amerika itu. “Lihat saja, kalau film Hollywood bisa tayang dua minggu, malah kalau box office bisa sebulan. Kalau film nasional, paling seminggu,” tandas Ucup.
Maka kian kompleks lah persoalan para kreator film bermodal cekak atau yang biasa mengambil jalur independen (indie) itu. Padahal, sejarah film indie di Indonesia sudah berlangsung lebih dari 10 tahun bahkan sempat menjadi tulang punggung film nasional sebelum kemudian datang film Ada Apa dengan Cinta? dan membangkitkan produksi film nasional dari kejenuhan film versi sinetron. Bahkan Jakarta International Film Festival pun lahir dari semangat independen yang mengusung film-film alternatif.
Dulu, ketika era VCD menjadi hype, pelaku film indie memproduksi sendiri dan mengemasnya ke plat kompak itu. Lalu, mereka menjualnya secara swadaya.Bisa melalui sistem marketing dari mulut ke mulut, menggunakan email agar bisa ketok tular, atau menggelar pemutaran film di kalangan komuniatas dan menjualnya di situ. Salah satunya dilakukan oleh kelompok Four Colors yang merilis film pendek bercerita berjudul Manyar dari Yogya.
Namun sekarang? Ketika industri digital sudah sedemikian maju, internet menjadi medianya, maka VCD dianggap ketinggalan zaman.Nasib serupa juga dialami oleh penjualan plat digital film yang semakin menurun. Bahkan rental VCD atau DVD pun banyak yang tutup.
Ke mana kah larinya film-film digital ini?
Arif Setiarso, praktisi film independen menyebutkan YouTube telah mengambil alih. Portal video ini bak toko digital yang menyediakan berbagai jenis film maupun video. Tak sedikit film independen mejeng di situ, untuk kemudian diunduh secara cuma-cuma.Jika begini, memang bukan komersial besar-besaran yang dicari. Namun seperti pencarian identitas atas sebuah film dan bagaimana pengunduh merespon bagus tidaknya sebuah film secara kualitatif. Dengan kata lain, semakin tinggi unduhan, kian sukses lah film itu diterima pasar, lalu muncul menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat. Salah satunya yang menuai sukses adalah film dokumenter berjudul No End In Sight, karya Charles Ferguson dari rumah produksi Magnolia Pictures yang bahkan menjadi nominasi di Piala Oscar untuk film dokumenter.
Hal ini pula yang menggiring film Merantau untuk tampil di YouTube. Selain versi trailer, juga ada 11 potongan film bisa diunduh. Penonton pun gratis menyaksikan film dengen genre action itu pada akhirnya.
Merantau masih untung, karena sempat diputar di biskop tanah air, meskipun tak mencetak box office versi Indonesia. Bayangkan dengan film Hope yang tertatih-tatih agar peluang masuk bioskop tetap terbuka.
Via On-Line
Dalam naungan kesulitan itu lah, kemudian film yang diperani oleh Pandji Pragiwaksono itu menggeliat mencari alternatif untuk melanggengkan jalan. Sebuah situs lokal bernama www.beoscope.com membuka kolaborasi dengan Bogalakon. Di sinilah Hope lalu berlabuh. Jurus marketing mulai dilakukan demi “menjual” film berdurasi 71 menit itu. Caranya?
“Kita lakukan on-line premiere, sekaligus nonton film lewat on-line pertama di Indonesia,” tukas Aan. Penonton yang pengguna komputer membeli tiket on-line yang dijual secara on-line dengan pembayaran bisa lewat ATM. Setiap tiket dibanderol Rp 10.000,-. Sebuah tiket dapat dipakai untuk menonton selama 12 jam. Jadi untuk sebuah film bermasa putar 71 menit, bisa ditonton sampai 10 kali secara berulang-ulang.
“Dengan tiket ceban (10.000 rupiah, RED), mereka bisa nonton ramai-ramai,” lanjut pria berpostur kurus ini. Risiko film itu kemudian ditonton warga se-RT hanya dengan membayar Rp 10.000,- sudah dibayangkan sebelumnya. Bahkan sekalipun kemudian di-streaming-kan ke layar lebar macam layar tancap pun, layaknya di desa-desa di India, sudah diperkirakan.
Bagi Aan, lewat cara begini malah membuka kemungkinan lebih banyak masyarakat yang tahu film karyanya. “Kalau ada yang tak sempat nonton, lalu penasaran, maka mereka pasti akan beli tiket lagi,” ujarnya yakin. Masalahnya, untuk balik modal, minimal tiket on-line yang terbeli harus mencapai 20.000 lembar. Butuh waktu lama. Belum lagi, film Hope yang ketika dibuat dalam format digital berukuran file 1,3 GB memerlukan tempo pengunduhan yang lumayan menyita waktu.
Perkembangan industri mobile di mana operator dan vendor menjadi tulang punggung belakangan ini diam-diam ikut membangkitkan gairah industri hiburan. Menurut pengamatan Ucup, sebuah vendor saja sampai menawarkan lagu-lagu dari artis atau band tertentu dalam satu paket penjualan. Slank misalnya, mengaku sangat terbantu ketika lima lagu hits mereka yang disisipkan ke ponsel kemudian diberi nama Nexian 27th Slank Anniversary.
Cara seperti inilah yang lantas terbias di benak Ucup. Jika lagu bisa, maka film pun sama. Ia malah melihat peluang besar dengan masuknya berbagai gadget seperti tablet PC sebagai sebuah fenomena yang akan menjadi media menonton film digital. Walaupun toh ponsel tetap menjadi priorotas lantaran penjualannya terus menanjak.
Salah satu contoh adalah film Tron Legacy yang disematkan di ponsel Nokia N8 dalam beberapa adegan. Meski dikemas hanya trailer-nya saja namun sudah cukup untuk mencuri hati penikmat film untuk pergi ke bioskop. Bagi Nokia yang menjadi sponsor, mutu audio dan video film yang dibintangi Jeff Bridges ini sekaligus menjadi “alat” untuk menunjukkan kemampuan komponen dan fitur HDMI-nya.
Ya, anak-anak indie memang selalu cerdas mencari peluang. Tak sukses masuk bioskop tradisional, masih ada jalan digital. Katanya, cara ini sudah dilakukan. Kata Ucup, mereka sanggup bikin film yang dikustom untuk sebuah produk ponsel atau tablet PC tertentu. Beragam application store yang ditawarkan oleh platform Android, BlackBerry, iPhone atau iPad, Bada, juga OVI Store makin membuka jalan distribusi film mereka. “Bahkan film Merantau sudah masuk iTunes,” ujar pira berkacamata ini.
Layanan operator
Sebagai refleksi saja. Di Amerika, industri layanan konten digital berupa video cukup diminati. Menurut eMarketer, pendapatan total dari sektor ini mencapai 719 juta dollar tahun 2010. Lembaga riset ini meramalkan tahun 2014, khusus mobile video bisa meraup untung sampai 1,3 milyar dollar.
“Proses digitalisasi media dan peluang untuk meningkatkan perolehan keuangan dari sektor game dan musik akan dialami juga oleh publisher film,” ujar Noah Elkin, analis senior eMarketer.
Tahun 2004, operator Sprint di Amerika yang menggunakan jaringan CDMA malah telah menggelar layanan “pay-per-view” untuk memperoleh streaming film durasi penuh. Layanan bernama Sprint Movies yang dioperasikan oleh mitra kerjanya, mSpot bahkan bekerjasama dengan distributor film dunia macam Buena Vista VOD, Lionsgate, Sony Pictures Home Entertainment, dan Universal Pictures.
Pada tahun itu saja sudah 45 judul siap ditonton via ponsel. Sejumlah film box office macam National Treasure, Spider-Man 2, dan Scarface adalah beberapa di antaranya.
Mengapa Sprint menggelar layanan film digital bergerak ini?
Direktur Penjualan Produk Hiburan Sprint kala itu, Alana Muller melihat ada ceruk di situ. Ia melihat pelanggan Sprint yang sering menunggu di bandara gara-gara delay, juga orang-orang sibuk yang perlu hiburan sambil makan siang, bahkan anak-anak yang diam duduk di kursi mobil saat melakukan perjalanan jauh dengan orang tuanya. “Anak-anak akan terhibur oleh film Herbie: Fully Loaded dan Babe,” kata Muller.
Upaya Sprint membuahkan hasil. Setahun kemudian nampak pertumbuhan pelanggan. Menurut Muller, sejak Sprint Movies diluncurkan pelanggan tumbuh rata-rata sebesar 30 persen. Tawaran ini sangat signifikan menarik pelanggan baru.
Sukses Sprint diikuti oleh Bell Kanada yang merilis layanan serupa tiga tahun kemudian. Bell menamakan layanannya Mobile Movies dan merangkul Buena Viesta maupun Sony Pictures. Tarif per film dimulai dari 5,15 dollar dan Bell menjaga kualitas jaringan untuk streaming film dengan paket unlimited. Program ini lantas dikemas dengan paket-paket tertentu. Pendek kata, pelanggan bisa menonton film kapan saja selama 24 jam, dan di mana saja.
Di negeri luar layanan seperti ini memang sudah jamak. Pengalaman Ucup di Inggris membuktikan betapa cepatnya proses pengunduhan film. Bahkan, sewaktu ia ke Korea sudah tak ada lagi DVD. “Semua download,” ujarnya.
Jalur untuk film indie
Di Indonesia meski kondisi mutu jaringan yang seringkali tidak konsisten bukan tak mungkin menggelar layanan serupa. Meskipun agak sulit jika menawarkan film-film dengan durasi lama. Yang memungkinkan, kata Arif yang bekerja di rumah produksi indie Good Sign Production adalah film-film pendek yang berdurasi antara tiga sampai enam menit. “Kalau agak panjang, kan bisa dipecah-pecah jadi beberapa episode,” ujarnya.
Maka, sejak tiga bulan silam rumah produksinya telah menawarkan konsep mirip mSpot-nya Sprint kepada salah satu operator GSM. “Ada respon, bahkan mereka siap menjalankan, karena infrastrukturnya sudah siap,” lanjutnya. Karena itu, proyek seperti ini sangat terbuka dan cocok bagi sineas indie.
Perkiraan Arif dengan budget sebesar 6 juta perak per episode sudah cukup untuk berkarya. “Malah kalau satu hari bisa ngejar untuk syuting tiga episode dengan biaya sama, bisa lebih ringan lagi,” akunya. Artinya sistem kejar tayang akan berlaku untuk mengefisiensi biaya dengan jaminan bahwa film-film pendek tersebut siap ditawarkan oleh operator untuk memperkaya layanan value added-nya. Ini tentu akan menjamin kontinyuitas berkarya itu sendiri.
Karya film yang disediakan lewat toko digital membuka peluang untuk terdistribusi secara internasional. Prinsip dunia tanpa batas yang ditawarkan internet (termasuk mobile internet) melandasi konsep penjualan global ini.
Sebuah content provider di India bernama Hungama Mobile melakukannya. Perusahaan ini tahu persis bahwa film Bollywood sudah mendunia. Film India bahkan cukup digandrungi di sejumlah negara Eropa. “Sebut saja Inggris, Prancis, dan Jerman. Di Belanda bahkan film India sudah di-dubbing dengan bahasa lokal,” kata Albert Almeida, COO Hungama Mobile. Hungama beralinasi dengan perusahaan Wireless Expertise untuk menjajakan film Bollywood di tanah Eropa.
Mobile digital movie versi Indonesia memang harus dimulai oleh sineas muda yang bersemangat independent yang tak melulu memikirkan unsure komersial melulu. Layanan Movie dari operator adalah salah satu pembuka jalan. Jalan lain bisa ditempuh dengan menggandeng vendor. Arif bahkan siap melakukan pekerjaan ini selagi dukungan operator maupun vendor tinggi.
Begitulah peluang itu terbuka lebar di jalur digital, agar rezeki sineas muda terus berisi dengan film-film “berbunyi”, biar industri film nasional juga dicicipi anak-anak indie. (ANDRA/FORSEL)
sumber : kompas tekno
By Penait.blogspot.com Read More......
Langganan:
Postingan (Atom)















