Rabu, 26 Januari 2011

Rukyah: Lantunan Ayat Ayat Suci Pengusir “Jin”

Disini saya tidak akan membahas tetek bengek alasan maupun analisis mengenai rukyah yang diklaim memiliki korelasi atau hubungan dengan jaman islam pertama. Disini saya juga tidak akan menguraikan apakah itu rukyah beserta dalil dalil atau alasan-alasannya. Disini saya juga tidak akan menggugat apakah rukyah itu sesuai dengan ajaran islam atau ajaran yang lainnya atau benar tidaknya. Disini sekali lagi saya tidak akan membahas apakah alasan alasan secara ilmiah atau saintifik khas psikologi atau yang lainnya mengapa rukyah itu bisa dilakukan dan terjadi. Singkat kata, saya hanya pengen berbagi pengalaman.

Hari ini jumat 20 Juli 2007, jam 21 lebih 46 menit waktu indonesia barat. Dua jam sebelumnya saya mengalami pengalaman menarik (ini setidaknya menurut saya). Saya dipanggil oleh paklik saya (yang dikenal oleh banyak orang di daerah saya sebagai seorang perukyah, bukan sebagai pekerjaan tapi jika ada yang datang dan butuh pertolongan biasanya paklik saya bersedia, itupun kalau tidak sibuk bekerja di sawah atau kolam koi-nya atau tidak sedang keluar. Tidak ada iklan ditelevisi atau radio, selebaran-selebaran atau di media apapun, hanya karena mulut-ke mulutlah biasanya pasien datang) untuk menemaninya menangani seorang pasien. Kenapa saya dipanggil dan apa tugas saya disitu?

Pasien yang ditangani paklik saya ternyata menunjukkan gelagat yang riskan untuk ditangani sendiri. Ketika saya datang saya disuruh untuk duduk di dekat pasien, paklik saya mengatakan kalau terjadi “amukan” dari pasien saya suruh “memeganginya”. Dalam waktu tidak lebih dari satu menit, atau kalau tidak salah baru sekitar 5 ayat alquran dibacakan, pasien sudah mulai “mual-mual” dan seperti ingin muntah. Setengah menit kemudian pasien mengejan-ngejan dan mengamuk. Sesuai tugas saya, saya pun memegangi apa yang bisa saya pegang. Bahkan kaki saya pun ikut saya gunakan agar amukan pasien tidak menjadi jadi.

Tangan kanan pasien akhirnya bisa saya “piting” agar tidak bergerak (tangan kiri sudah dipegangi paklik saya). Sembari “glosotan” serta mengeluarkan suara desisan khas ular ia terus mengamuk. Saya masih mendengar dari mulut pasien keluar kata dengan suara besar (bukan suara biasanya),” iki putuku” (ini cucuku). Keringat saya mulai bercucuran dalam memegangi (lebih tepatnya bergulat) tangan dan tubuh yang gemuk gembal dan besar itu (kira kira tinggi 180 berat 100 kg, itu ketika saya tanya, saya tingginya 183 berat 75 kg). Kemudian sekitar 3 menit atau 5 menit erangan itu berakhir dan pasien kembali normal alias sadar (dia bicara normal dan tidak mengejan atau mengamuk lagi). Ini reaksi pertama.

Setelah istirahat sebentar sekitar 2 atau 5 menit, pembacaan ayat al quran pun dimulai kembali. Belum ada satu menit sang pasien mulai mau muntah muntah (istilah bahasa jawa glogek-en). Ia mulai mengejan dan mengamuk lagi. Saya kembali beraksi memegangi tangan dan tubuh gempal itu. Kali ini suara erangan kayak macan muncul dari mulutnya. Ayat al quran masih dibacakan. Sembari paklik melakukan gerakan tertentu yang tidak begitu saya perhatikan (saya konsentrasi memegangi “memiting” tangan pasien) pasien mulai menunjukkan reaksi muntah. Sampai ketika pasien seakan-akan mengeluarkan sesuatu dari mulutnya (angin kalau dalam penglihatan saya). Pasien kembali sadar.

Demikianlah sampai 6 kali lebih pasien tersebut mengalami kejadian seperti itu dan sebanyak itu pulalah saya musti “bergulat” dengan pasien. Dua kali kejadian pasien tertawa seperti orang gila atau lebih tepatnya kayak “mak lampir”. Dua kali saya dengar juga pasien mengatakan,”golekke dalane” (carikan jalannya), yang kalau saya artikan berarti pengen keluar tapi musti dicarikan jalannya. Tetapi paklik saya bilang goleko dewe dalane (cari sendiri jalannya). Satu kali juga saya dengan kata” aku mlebu entas wae” yang artinya saya baru masuk. Kalau saya pikir ini berarti “dia” baru saja masuk lagi. Satu kata lagi bilang,”aku jogo putuku” (aku menjaga cucuku). Saya sudah tidak begitu ingat lagi apa yang dikatakannya lagi. Sejauh pengamatan saya yang singkat karena saya juga konsentrasi mengalahkan kekuatan pasien, yang paling sering terucap adalah desisan desisan gak jelas.

Terakhir pasien dimandikan dengan gujuran air dan rukyah pun berakhir. Gujuran air itu saya maksudkan dengan melempar air dengan gayung sekeras mungkin ke tubuh pasien. Ketika di guyur dengan cara itu pasien juga sering mengerang dan mau muntah.

Tugas saya pun selesai. Pasien pulang. Saya kelelahan, Keringat menetes dimana-mana. Hal baru sekali lagi masuk dalam pengalaman saya. Saya mensyukurinya.

Salam Takjup atas Manusia

Oleh Haqiqie Suluh

0 komentar:

Poskan Komentar


ShoutMix chat widget
 

© Copyright by BERBAGI ILMU DAN INFORMASI | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks